Pengertian Teks Nonsastra, Jenis Teks Nonsastra, Ciri Teks Nonsastra

Advertisement
Pengertian Teks Nonsastra, Jenis Teks Nonsastra, Ciri Teks Nonsastra - Menurut Tjahyono ( 1998 : 106) Ragam prosa nonfiksi bersifat denotatif. Bahasa prosa nonfiksi bersifat menjelaskan dan menerangkan, tidak menimbulkan makna ganda pada penafsiran pembacanya. Bahasa prosa nonfiksi merupakan manipestasiestetis penulisanya, namun merupakan manisfestasi informatif, baik yang bersifat argumentatif, persuasif, maupun eksposisi.

Selanjutnya Tjahyono (1988:106) berpendapat, ”Dalam teks nonsastra logika yang digunakan adalah logika faktual. Logika Faktual adalah logika yang dapat diukur secara ilmiah. Bisa melalui pembuktian, bisa melalui dalil atau rumusan tertentu.”Apa yang ditulis bukan untuk direnungkan, tetapi untuk dimengerti dan dipahami. Tulisan teks nonsastra ditulis berdasarkan fakta-takta yang diperoleh secara ilmiah.

Jenis-Jenis Teks Nonsastra


Artikel pada hakikatnya tulisan yang berisi pengungkapan pendapat atau ide tentang suatu tema atau hal dalam bentuk tulisan yang dimuat di media cetak, sebagaimana dikemukakan Romli (2005: 45)”Artikel (article) dipahami sebagai karangan atau tulisan tentang suatu masalah berikut pendapat penulisnya tentang masalah tersebut yang dimuat di media masa cetak.”

Secara definitif, artikel diartikan sebagai sebuah karangan faktual (nonfiksi) tentang suatu masalah secara lengkap, yang panjangnya tidak tentu untuk dimuat di surat kabar, majalah, bulletin, dan sebagainya. Artikel ditulis dengan tujuan untuk menyampaikan gagasan dan fakta guna meyakinkan, mendidik, menawarkan pemecahan masalah, atau menghibur.

Membaca artikel sama halnya dengan membaca paragraf  karena dalam artikel terdiri atas paragraf-paragraf. Artikel yang  bisa disajikan pengarang ada yang berbentuk narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi, sebagaimana dikemukakan Tampubolon (1987 : 114)”untuk menyampaikan maksudnya kepada pembaca, pengarang pada umumnya mempergunakan salah satu dari bntuk karangan prosa berikut: narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi.” Selanjutnya dikemukakan pula oleh Tampubolon (1987 : 114) “keempat bentuk karangan itu tidak dapat selalu dibedakan secara tajam, dan dapat juga terjadi bahwa dalam suatu karangan keempatnya dipergunakan. Tetapi bagaimanapun, perbedaan keempat bentuk karangan itu sangat berguna sebagai pegangan umum bagi pembaca untuk dapat lebih tepat memahami suatu karangan.”

Secara garis besar jenis-jenis artikel menurut Romli (2005:47) yaitu sebagai berikut:

Artikel Deskriptif

Artikel deskriptif (menggambarkan) adalah tulisan yang isinya menggambarkan secara detail ataupun garis besar tentang suatu masalah, sehingga pembaca mengetahui secara utuh suatu masalah yang dikemukakan.

Artikel Eksplanatif

Artikel Eksplanatif (menerangkan atau menjelaskan ) isinya menerangan sejelas-jelasnya tentang suatu masalah, sehingga pembaca memahami betul yang di kemukakan.

Artikel Prediktif

Artikel prediktif (meramalkan) berisi ramalan atau arau dugaan apa yang kemungkinan terjadi pada masa datang, berkaitan dengan masalah yang dikemukakan.

Artikel Preskriptif

Artikel perskriptif (menentukan, menuntun) isinya mengandung ajakan, imbauan atau perintah bagi pembaca agar melakukan sesuatu.Kata-kata harus, seharusnya, hendaknya, dan semacam mendominasi tulisan jenis ini.

B. Esai

Menurut B.J Jassin yang di kutip Tjahjono, (1988: 171)  “esai merupakan karangan yang membicarakan soal-soal manusia dan hidup, dijiwai oleh subjektivitas pengarang. Dalam esai bisa diungkapkan perihal kehidupan, hikmah hidup, tanggapan, pikiran, renungan, dan lain-lain.”

C. Biografi (Riwayat Hidup)

Biografi merupakan jenis karya tulis yang menceritakan secara naratif tentang kisah seorang tokoh atau pahlawan yang memberikan pengaruh di masanya seperti tokoh politik, ekonomi, budayawan, ilmuwan, dan lain-lain.

Sebagaiana dikemukakan oleh Tjahjono, (1988: 170) “biografi ialah karangan yang berisi riwayat hidup seseorang yang ditulis seobjektif mungkin.Biasanya yang ditulis memang riwayat hidup orang-orang ternama.”

Ciri-ciri Teks Nonsastra

Bahasa sastra dan nonsastra hampir tidak ada bedanya, mungkin hanya terletak dalam ragam bahasa yang dipakainya. Menurut Tjahjono, (1988 : 31)

Bahasa nonsastra lebih bersifat denotatif, artinya mengacu pada satu pengertian saja. Tidak ada tambahan makna lain dari kata-kata yang digunakannya. Dia bermakna konkret dan wajar.Berbeda dengan bahasa sastra, pada umumnya menggunakan kata-kata yang bermakna konotatif, yaitu yang memiliki pengertian tambahan atau arti sekunder di samping arti primernya.Bahkan sering kali terjadi justru makna sekundernya yang lebih penting daripada makna primernya.Bahasa sastra bersifat multi-interpretabel artinya bahasa sastra cenderung mengandung penafsiran ganda dari pembacanya. Hal itu terjadi karena sifat konotatif  bahasa sastra, berbeda dengan bahasa nonsastra yang tidak memiliki sifat multi-interpretatif artinya bahasa yang digunakan mudah sekali dipahami.